Selamat Datang di Blog Bukan Artikel Biasa! Blog tempat membaca Artikel-Artikel Pilihan dan Download Game - Software Gratis!

Plesetan Pilkada

Perang “kata-kata” dalam dunia politik Sulawesi Tenggara juga muncul dalam bentuk plesetan-pleseten “bersayap” yang terungkap melalui guyonan atau kelakar-kelakar politis. Disebut “bersayap”, karena plesetan kata-kata di seputar kita selalu mengandung maksud-maksud tertentu yang “lebih” dari sekedar apa yang sempat terucap dalam guyonan politis orang kebanyakan. Boleh jadi sebuah plesetan dimaksudkan sebagai bagian dari strategi psy-war (perang urat syaraf) untuk membesar-besarkan jiwa, menanamkan stigma positif, menutupi kekurangan, membangkitkan militansi dan semangat korps para pendukung atau untuk mempermudah sosialisasi diri sang kandidat, tapi boleh jadi, bahkan mungkin lebih banyak, sebuah plesetan mengandung maksud untuk menyindir, mengejek, memanas-manasi, menakut-nakuti atau menyudutkan pihak lawan. Yang pasti adalah bahwa setiap untaian kata-kata yang sengaja dibuat “terpeleset” atau dibuat “seolah-olah” benar, selalu mengandung makna tertentu yang kadang bisa ditafsirkan oleh orang lain, namun kadang pula hanya bisa ditafsirkan oleh si pembuatnya sendiri.

Saat perang kata-kata mulai hadir mewarnai dinamika pilkada Sultra tahun 2007 lalu, Nur Alam (salah seorang kandidat gubernur) mencoba meramaikan situasi dengan membuat plesetan ”wah” pada dua untaian kata di namanya sendiri dengan mempopulerkan istilah : ”guberNur Alam”. Plesetan elegan ini sekilas menggambarkan optimisme seorang Nur Alam dalam ”mengguber” posisi gubernur Sultra, meski kemudian optimisme itu berupaya dipatahkan oleh ”orang-orang” Ali Mazi (calon gubernur incumbent) dengan sengaja membalik susunan kata Ali Mazi menjadi ”Masih Ali” dan lalu menyambungnya dengan ungkapan : ”yang menang”, sehingga terbentuk frasa ”Masih Ali yang menang”. Ali Mazi sendiri bahkan ”sangat optimis” tampil sebagai figur ”yang menang” dengan menambahkan ungkapan ”yang menang” itu pada singkatan nama pasangan MMA (Mashur Massie – Azhari) yang diplesetkan menjadi ”Memang Masih Ali” yang menang. Optimisme seorang Ali Mazi kembali terungkap saat memplesetkan singkatan inisial ”A” dan ”M” pada huruf awal namanya sendiri menjadi kata ”Allah” dan kata ”Muhammad”. Subhanallah.

Sayang sekali, plesetan optimismistik Ali Mazi di atas dihadang oleh plesetan minor di lidah sebagian orang yang menyebut nama Ali Mazi dengan ungkapan ”Ali Mati” dan Abd. Samad dengan sebutan ”Abdul Tamat”. Demikian pula ketika jargon politik Ali Mazi ”dengan bukti bukan janji” sengaja dibuat terpeleset oleh orang-orang dengan membalik susunan katanya menjadi : ”dengan janji bukan bukti” untuk khusus dilekatkan pada diri calon wakilnya, Abd. Samad.

Sebagaimana pasangan Ali Mazi dan Abd. Samad (Azimad), sebagian orang juga menyindir pasangan calon Mahasila (Mahmud Hamundu dan Yusran Silondae) dengan istilah ”Mahasial”, meski kemudian keduanya tetap optimis dengan memplesetkan kata ”Mahasila” menjadi ungkapan ”Maha Guru” yang, seperti kata mereka, ”sudah saatnya memimpin umat”. Optimisme Mahmud Hamundu identik dengan optimisme seorang Mashur Massie Abunawas ketika memplesetkan perpanjangan dari singkatan namanya sendiri (MMA) menjadi ”Mashur Masih Aman”.

Seperti sindiran orang ketika memplesetkan kata Mahasila menjadi Mahasial, dalam event pilkada (kontroversial) Konawe di awal bulan Januari 2008 lalu, cukup banyak orang yang memplesetkan singkatan LAMAS (pasangan Lukman Abunawas – Masmuddin) menjadi kata ”MALAS”, atau merubah kepanjangan LAMAS menjadi : ”Laa Masalah” (ada masalah) atau ”Lari Masyarakat”. Selain dengan cara plesetan seperti ini, rival-rival politik Lukman Abunawas juga ada yang sengaja memplesetkan sendiri logika berfikirnya dengan mengatakan bahwa ”sebenarnya Lukman adalah orang baik, hanya ’Abunawas’nya itu”. Disebut sebagai logika berpikir yang terpeleset, karena kata ”Abunawas” dalam perkataan itu, bukanlah ”Abunawas” dalam pengertian nama orang tua Lukman, tapi lebih sebagai ”Abunawas” dalam pengertian hikayat ”seribu satu malam” yang oleh orang-orang Persia digambarkan sebagai tokoh yang cerdik dan licik.

Mendengar sindiran perih seperti itu, orang-orang LAMAS malah bertambah optimis dengan menyebar-luaskan opini-plesetan yang berbunyi : ”Umarsip semakin Mantap bahwa Wahyu akan kembali ke pangkuan LAMAS”. Umarsip, Mantap dan Wahyu adalah akronim dari nama tiga pasang calon yang menjadi rival politik LAMAS saat bertarung di pilkada Konawe, yakni Umar Saranani – Ichwan Porosi (Umarsip), Mantu Mustafa – Takdir (Mantap), dan Anwar Bey – Yusran Taridala (Wahyu). Petikan kalimat ”Wahyu akan kembali ke pangkuan LAMAS” sesungguhnya bermaksud menyindir figur Yusran Taridala (dalam frame pasangan Wahyu) sebagai orang yang sebelumnya sangat dekat dengan pasangan LAMAS. Sehingga opini-plesetan tadi berupaya membangun kesan bahwa ”seolah-olah” Wahyu adalah orang titipan LAMAS dan ”seolah-olah” pada akhirnya akan kembali ke pangkuan (memperkuat) LAMAS. Untung saja, pasangan Wahyu cepat-cepat membalik opini-plesetan tadi dengan menyebarluaskan opini-plesetan sejenis, namun dengan maksud terbalik, yakni : ”Umarsip dan Mantap semakin Yakin bahwa Wahyu akan menang di pilkada Konawe. Bila tidak, LAMAS.. eh MALAS deh, atau pasti Laa Masalah, akan ada masalah kata mereka.

Masih dalam konteks pilkada (kontroversial) Konawe, tradisi menyindir kandidat calon dengan cara memplesetkan namanya, dialami oleh Drs.H. Mantu Mustafa, salah satu kandidat calon Bupati. Gelar ”Drs” dan huruf inisial ”M” pada kata ”Mantu” dalam sebuah Baliho milik calon ini, tiba-tiba dihilangkan oleh segelintir orang di Konawe sehingga tampak dari jauh tertulis : ”Hantu Mustafa”. Tradisi menyindir nama calon seperti ini juga terjadi pada event pilkada Konsel pada pertengahan tahun 2005 lalu. Ketika Yunus Toondu, salah satu calon Bupati yang bertarung di pilkada itu, ternyata kalah dalam proses pemungutan suara, banyak orang yang lalu bergumam : ”Yunus Toondu memang pantas kalah, karena awal namanya saja sudah memberi signal ”Toondu”, maksudnya ”tenggelam” dalam bahasa Tolaki.

Dalam event pilkada di kota Kendari pada pertengahan 2007 lalu, pasangan calon MURI (Muzakkir Mustafa – Ridman Abunawas) yang ternyata kalah bertarung, terpaksa harus tabah menghadapi sindiran orang-orang yang memplesetkan istilah MURI sebagai singkatan dari Musium Record Indonesia (MURI). Sindiran tersebut menyebutkan bahwa calon besutan partai golkar itu, yakni Muzakkir Mustafa dan Ridman Abunawas, pantas dicatut dalam catatan MURI sebagai satu-satunya calon ”incumbent” di Indonesia yang mengalami kekalahan paling parah sebab berada pada urutan paling akhir dalam ranking perolehan suara pilkada. Sindiran ini lahir terkait dengan posisi Muzakkir Mustafa yang dalam event pilkada tersebut, masih sedang menjabat sebagai wakil walikota Kendari. Sedangkan jabatan walikota di saat itu, masih dijabat oleh kakak kandung pasangan wakilnya, yakni Mashur Massie Abunawas. Dalam event pilkada tersebut, pasangan calon lainnya yang juga ternyata kalah dalam pemungutan suara, yakni Jusuf Ponea – Laode Khalifah yang dipopulerkan dengan singkatan JP – LK, pernah berupaya dipojokkan oleh rival-rival politiknya yang tiba-tiba saja memplesetkan singkatan JP – LK tadi dengan kalimat : ”Jangan Pilih Lelaki Kurus”. Kejadian serupa juga menimpa Sahrun Gaus, salah satu calon Bupati yang kalah dalam event pilkada Bombana, ketika sebagian orang tiba-tiba memplesetkan namanya menjadi ”Sahrun Gau-Gau”, Sahrun yang suka ”gau-gau”, suka bohong menurut bahasa plesetan itu.

Kalimat plesetan yang memperdengarkan kesan seolah-olah”sesumbar”, dapat disimak pada kata-kata Ridwan BAE dalam event pilkada Muna di akhir tahun 2005 lalu ketika bergumam : ”di Muna ini, tidak ada orang yang BAE kecuali Ridwan”. Maksud plesetannya jelas, yakni bahwa di daratan Muna, tidak ada orang yang mencatut kata BAE di belakang namanya, kecuali Ridwan. Dalam event pilkada itu, Ridwan juga pernah berseloroh : ”kalau mau masuk syurga, janganlah berteman dengan malaikat Malik, tapi bertemanlah dengan malaikat Ridwan”. Malaikat Malik dalam ungkapan plesetan itu, jelas diarahkan pada nama ”Malik Ditu”, salah satu rival politik Ridwan. Sebaliknya, dalam ungkapan tadi, Ridwan BAE malah sedang men-demonologisasikan namanya ke dalam nama malaikat Ridwan.

sumber: http://yusrantaridala2010.wordpress.com/2010/06/29/plesetan-pilkada/

0 comments:

Post a Comment